Archive for March, 2008

Doa Untuk Wonderbra dan Para Personilnya: Perang antara Rock and Roll dan KKK

Monday, March 31st, 2008

Oleh: Nosa the Wonderguitar

.

Mungkin pathetic
benar apa yang bakal lo baca di sini: sebuah kenyataan pahit tentang
keadaan sebuah band yang menurut beberapa orang, termasuk gue
sendiri, bisa menjadi band besar yang mampu memperbaiki rusaknya
musik Indonesia dan pasarnya sekarang. Wonderbra sebagai sebuah band
saat ini sedang menghadapi sebuah kenyataan yang jauh dari ketenaran
Rock and Roll. Kenyataan yang menyedihkan di mana para personilnya
terjepit oleh KKK: Keluarga, Kapitalisme, dan Kuliah.

.

Dua K yang pertama
menimpa tiga personil Wonderbra yaitu: Ms. Teraya Paramehta, Mr. Nosa
Normanda, dan Mr. Edy Sembodo. Ms. Teraya Paramehta, dari kacamata
seorang awam sekarang bisa dibilang mapan. Ia adalah seorang dosen di
UND (Universitas Negeri Depok), juga seorang wartawan dan budak
Kapitalisme sebuah majalah ekspat di kota neraka ini. Sesungguhnya
sangatlah nyaman pekerjaannya ini, jika kebuasaan di dalam hatinya
bisa cukup dibendung dan ia bisa cukup egois untuk meninggalkan band
dan kegamangan pergaulan metropolitan. Terlebih lagi profesi seperti
ini cukup [atau mungkin sangat] didukung Keluarganya. Tapi dari
keluhan-keluhannya di Multiply, nampaknya ia tidak bisa melakukan
itu, maka Wonderbra tetap bernafas walau tersengal-sengal menanti Ms.
Tera dengan jadwalnya yang padat untuk datang ke studio. [tambahan
berita terbaru: Ms. Tera menjadi betah dengan pekerjaannya karena
alasan financial. Namun ia berencana akan mengatur jadwalnya untuk
band dengan baik—walau beberapa minggu ini terlihat kurang
berhasil]

.

Mr. Nosa Normanda
berbanding terbalik dengan Ms. Tera yang mengalami tekanan batin dan
bukan konflik besar keluarga. Nosa Normanda baru saja disidang oleh
Dewan Jenderal Keluarga besarnya [terdiri atas Om-om, dan
Tante-tantenya yang ‘mapan’ dan mama-papanya] atas dua masalah:
Kapitalisme dan Keluarga nuklir. Om-nya yang terkaya memberikan
jaminan berupa wejangan: “Om jamin, kalau kamu jadi seniman, kamu
pasti KERE…RE..RE..RE!!” dan kata Kere tadi terngiang-ngiang di
kepala Nosa Normanda bagai sebuah gadam yang keras dari Hanoman
[Dung! Dung!]. Yang lebih ngenes lagi, ketika Nosa memperlihatkan
hasil kerja kerasnya, sebuah majalah Teater bernama Teatron, si Om
membaca, menaruhnya di meja dan bilang, “Semua seniman di sini
nggak ada yang sekolah! Kamu kan kuliah, di UI lagi. Kamu bisa lebih
daripada ini. Kenapa kemarin nggak mau nyoba DEPLU atau Departemen
pemerintahan yang lain? Om punya banyak koneksi.” Dia men-judge
tanpa tahu betapa susahnya membuat itu majalah. Lagipula seniman
miskin adalah seniman yang malas kerja dan/atau bodoh. Bayangkan apa
yang bisa dilakukan seniman lulusan kuliahan, kritis, memiliki nilai
akademis, rajin bekerja, menabung dan tidak sombong di negeri ini? Si
Om SOTOY! Yang paling sempurna yang menutup pengadilan tersebut
adalah sebuah pertanyaan dari pemilik rahim yang melahirkan Nosa
Normanda, yang kontradiktif sekali dengan judgment keluarga
besar ini tentang Nosa Normanda si Seniman Kere, “Jadi, kapan kamu
mau Mama lamarkan pacar kamu?” ARRRGH!!! Apa Seeeh!!?

.

Mr. Edy Sembodo mengalami
nasib yang lebih mengenaskan dari Mr. Nosa Normanda karena ia
memiliki rasa CINTA yang sangat besar terhadap keluarganya, dan rasa
TANGGUNG JAWAB yang tinggi terhadap karir dan keadaan keuangannya. Ia
‘berkerja banting tulang dalam mencari perkerjaan’, dan hasil
yang didapat bagai memancing di pantai ancol: polutan, sampah, dan
ikan-ikan kecil yang kemungkinan besar mengandung merkuri. Namun di
sela-sela jam nelayannya yang padat, ia masih mampu tersenyum dan
datang latihan band dengan iklas dan ridha untuk sebuah perjuangan
atas kesetiakawanan sosial dan cita-cita berbangsa dan bernegara. Edy
Sembodo sedang dalam perjalanan menuju suatu heroisme: apakah ia akan
berakhir bahagia seperti sebuah komedi Lysistrata, atau A
Midsummer Nights Dream
? Atau ia akan berakhir tragis seperti
Oedipus, Othello atau O-O yang lain? Atau mungkin juga
percampuran tragicomedy layaknya yahudi dalam Merchant of Venice?
Kita tunggu petualangan berikutnya!

.

Dua personil Wonderbra
yang lain Mr. Asep Rahman dan Mr. Yuda Wahyudin secara lengkap
mengalami KKK, khususnya K yang ketiga. Beberapa hari belakangan ini,
Mr. Asep Rahman berubah menjadi Prof. Calculus dalam komik Tin Tin
yang selalu mencari ke arah mana energi kosmik menuju. Ia juga mulai
menghitung dengan bandulnya tentang premis-premis yang terjadi dan
kesimpulan apa yang bisa ia ambil tentang alam semesta dan
strukturnya. Tebak, apakah yang sedang dilakukan Prof Asep Calculus?
Betul! Dia sedang belajar LOGIKA! Logika adalah suatu mata kuliah di
departemen filsafat di mana Mr. Asep Rahman terancam DO kalau tidak
lulus lagi kali ini. Maka ia berusaha dengan sangat keras bagaimana
memecahkan masalah-masalah logika yang pelik karena diulang-ulang,
membosankan, dan diajar oleh seorang cumi-cumi kaku yang jago bermain
clarinet bernama JP Hayon yang legendaris. Dalam mitologi Nickelodeon
dia juga dikenal sebagai Squidworth. Jika Mr. Asep Rahman gagal dalam
K yang ini, maka ia akan memiliki masalah K-luarga dan K-pitalisme.
Mudah-mudahan Prof. Calculus bisa membantu Asep untuk menjawab soal:
“Premis mayor: Silet adalah benda tajam; Premis minor: Silet bisa
melukai kulit; maka kesimpulannya?” Jawab Asep: “Dilukai dengan
silet itu enak…” TEEET! Maaf, anda tidak bisa lulusssss… lebih
baik mulai tanya Galileo.

.

Mr. Yuda Wahyudin terkena
Hidayah karena ia tidak mabuk, rajin beribadah, dan tidak neko-neko
seperti kawan-kawan band nya yang lain: ia terinfeksi KKK ibarat
negro Kristen taat yang pada tahun 1964 di Oklahoma digantung
terbalik dengan telanjang dipohon Oak dan diketawai seorang anak
perempuan kulit putih yang bilang: ‘tititnya lucu….’ Sebuah
kekaguman pertama anti-rasis dari orang WASP (White Anglo-Saxon
Protestant) Amerika di Oklahoma. [metafora yang iseng dan
menyeramkan!]. Jalan yang lurus nampaknya tidak selalu mulus untuk
Mr. Yuda Wahyudin. Terlihat di acara ‘Mari ngerjain Selebriti’ di
tv-tv swasta yang ngeshoot ada tiga selebriti wonderbra (Edi Sembodo,
Manajer Manan, dan Yuda Wahyudin) yang sedang ‘pura-pura’
nyebarin flyer Fakultas Tehnik di ITC. Salahnya tuh acara,
sesungguhnya seleb-seleb ini tidak sedang acting buat ngerjain
orang, mereka benar-benar sedang bekerja nyebarin flyer. Ketika
ditanya Wartawan, kenapa melakukan hal itu, Mr. Yuda hanya menjawab
dengan senyum tipis ala Brian Jones nya, “Untuk beli efek, cuy!!!”
Dalam tekanan keluarga untuk mencari pekerjaan tetap, dan
menyelesaikan skripsinya yang tinggal seiprit, Mr.Yuda Wahyudin masih
bisa focus untuk tujuan mulia yang diberkahi tuhan: beli efek cuy!!!

.

Itulah update
terkini dari band yang baru mulai dewasa dan mulai tenggelam dalam
kegamangan realita kolektif masyarakat urban. Mereka menunggu doa
dari kita semua untuk bisa kembali menyemarakkan musik dan pergaulan
yang sehat dari komunitas-komunitas orang cerdas yang ada di ibukota.
Dalam keadaan mereka sekarang, mereka masih konsisten untuk terus
membuat lagu. Rekaman pertama album kedua mereka juga akan dilakukan
tanggal 30 bulan Maret ini. Doakan saja, segala carut marut KKK ini
bisa diredam layaknya Mandela menekan Apartheid. Kita berdoa dengan
sangat khusyuk kepada Rock and Roll dan kejahatannya. Mudah-mudahan
babah Bob Johnson bisa mengamini kita semua. Amin.