Archive for September, 2007

Kutilanisme Kapitalisme!!

Tuesday, September 4th, 2007

"waktu ku kecil aku tak tahu ada yang nyempil
ku towel-towel kukira botol tahunya kutil!"
.
Itu adalah versi sopan dari sebuah lagu lama yg gue denger wkt SD. Versi joroknya, kutilnya diganti k&*^(l. Tp versi sopan ini mengungkapkan isi hati gue (dan kemungkinan semua anak Wb saat ini).
.
Lo tahu kutil? itu semacam jendolan yang muncul di kulitlo, agak gatelin, dan kalo lo potong bisa bikin bedarah dan bakal numbuh lagi. Kutil itu penyakit anak kampung yang kebanyakan maen di got…
.
Sekarang Wb bagaikan seorang anak yang mempunyai kutil yang super besar di bagian kelamin. Lo bisa bayangin gimana rasanya, karena artinya Wb akan sulit untuk bereproduksi, berkembangbiak, bahkan untuk bergerak. Dan kutil itu kami namakan LIMI.
.
Label yang satu ini adalah label yang baru jadi dan ada di Margonda Depok. Mereka yang memproduksi albuk Wb 1000 keping tanpa memikirkan taktik promosi dan distribusi yang mateng sehingga albumnya jadi sulit didapat. Gue pengen curhat ama kalian semua, pembaca yang budiman, tentang sakit kutil yang diderita wonderbra.
.
kami menyadari penyakit ini ketika kami mulai bertanya-tanya tentang distribusi album yang tidak muncul di distro-distro besar di Jakarta dan Bandung. Sehingga kami sendiri yang harus ke distro-distro tsb mengantarkannya. Belum lagi di Bandung, Wb dibagikan secara tidak merata ke radio-radio sana. Otomatis kita dapet No. 1 di chart indie ardan, sedangkan di radio laen ga ada yang kenal. Ironis. walhasil manajemen erik dan manan terpaksa bolak-balik bandung-jakarta untuk nyebarin album di distro dan radio.
.
Pas launching mereka juga bikin kita naik pitam. Bayangin dul, masa kami cuma dah bayar semua biaya untuk launching, sehingga mereka cuma kebagian nyediain alat, stiker, sama press kit tp yg beres cuma alat doang. Stiker yg gue proposed 2 desain, cuma dibikin satu desain, dan satu lagi stiker LIMI.
.
Dan yang parah Press Kit yang mestinya menyangkut band Wonderbra malah berisi profil LIMI dibungkus dengan kantung kertas berlogo LIMI. Di mana Wonderbra-nya? Wonderbranya nyempil di profil sebagai PRODUK LIMI! ANJRRRIIIIT!! Label mana yang segoblok itu. Di mana-mana label yang nyempil, mana ada produk yang nyempil. Biskuit aja tahu: Biskuat dari Danone! Bukan Danone dari Biskuat. Yang mao lo jual apa, Til? Bandnya apa labelnya!?.
.
Trus masalah yang parah lagi datang bertubi-tubi. Follow up penjualan album yang mustinya di upgrade setiap tiga bulan, ga pernah ada laporannya, padahal di banyak distro besar, termasuk di soho music store dan beberapa tempat di Bandung, ‘Crossing The Railroad’ dah sold out. Buat nyupply nya aja lama banget, padahal tokonya dah lama minta.
.
Dan yang paling mengagetkan adalah munculnya lagu-lagu kami sebagai nada sambung Indosat. Delapan lagu, semuanya muncul. Si kutil bilang, dia udah ngasih tau kita bahwa mereka akan kerja sama dengan Import. Tapi waktu kita tanya kontraknya mana, mereka bilang belom ada. Anjing! padahal untuk download lagu itu harus  bayar Rp. 5500 dan keuntungannya untuk yang punya lagu 70%.
.
Sampai sekarang mereka ngajakin kita maen kucing-kucingan. Padahal kita udah anjing-anjingan kerja buat membesarkan BH ajaib ini menjadi ukuran 39 D! Buat ketemu aja susah banget dan jadwalnya ga pernah cocok.
.
Awalnya ini masalah internal band Wb. Tapi kesabaran gue sebagai pembuat kebnykan kerangka lagu di album ‘nyebrang rel kreta’ nyang ca’ur itu merasa sakit hati, dan mendingan curhat kepada pembaca yang budiman, berpekerti dan rajin menabung. Gue percaya sebagai band Indie, gue harus memberitakan ini kepada semua teman-teman yang akan memulai produksi album indie, dan meminta saran kepada band-band yang dah lebih senior. Indie supports its family, rite?
.
Awas! penyakit kutil kapitalisme itu ada di mana-mana. Itu adalah konsekuensi ketika sebuah karya mulai dihargai dengan uang. Namun, karena kita hidup dalam sistem tersebut, dan uang menjadi salah satu simbol pengakuan eksistensi, kita musti banyak belajar. Buat gue, masalah kutil Wb adalah tragedi, dan seperti kata Nietzsche, fungsi utama tragedi adalah memberi pelajaran kepada manusia tentang hidup. Salam Yahweh!

note: Ini gue, Nosa! Gue udah naek pitam. Kalo elo merasa sebagai kutil yang membaca tulisan ini, dan elo marah karena gue bilang lo kutil, sinilo telp gue, ajakin ketemuan kalo berani, you slave-sucking-fascist! kutil lo anjing!

Launching “Crossing The Railroad”

Tuesday, September 4th, 2007

Gue ngomongin launching album, dengan foreplay sebagai berikut:
Ironis. Gue sendiri dah lupa kapan Wb launching album pertama nan ca’ur: soundnya ga mateng, mixingnya kurang bagus, sleevenya salah cetak, dan yang paling salah, produsernya nekat nyetak 1000 keping dengan pemasaran yang acakadut. Hooo…

Tapi ga bisa dipungkiri album tersebut adalah hasil kerja keras kami-kami yang waktu itu masih ‘young and stupid’. Sekarang mah, qta udah ‘quite old and…drunk’. …’and stupid’. The second thing is a good thing though;] hiks.

Kembali ke launching. Acara tersebut terselenggara atas dukungan provoke! magazine, dan kerjasama 2 pihak: manajemen wonderbra dan label LIMI.

manajemen Wonderbra bantuin menggalang dana dan mencari koneksi untuk band-band yang akan main di acara tersebut. Walaupun pada akhirnya urusan mencari koneksi dilakukan dengan charm, kegaulan, dan availability Thera, sehingga berhasil membuat teman-teman  sperti Stupid Robotic Killing Machine, Stereomantic, Zeke and The Popo, Afamous, dan band cadangan  yang sangat kami  hormati dan sangat berhutang budi, Rumput Laut, sudi  main.

Manajemen Wonderbra yg terdiri dari Eric, Manan, dan Sisie berhasil menggalang dana, wartawan dan tenaga dari teman-teman FIB (khususnya anak-anak kansas dan jurusan Filsafat) untuk membantu jalannya launching tersebut. Dua di antara para bala bantuan, yaitu Aya dan Claudia, berhasil membuat meja penerima tamu menjadi ‘manis’. Sebenarnya konotasi manis tadi agak negatif, karena ketika band main, tamu-tamu cowok yang gatel malah pada sibuk godain mereka berdua, Thera kalah pamor…

Belum lagi dua MC Gila yang jago improvisasi: Mr. Wolfgang dan Mr…oops, Ms. Hani. Bayangin, ketika cd promo abies, mereka bikin games dan kuis dengan hadiah: Tolak angin cair! bener2 orang pinter!

Selain itu manajemen telah berhasil memberikan kita (wb, band yang main, dan tamu-tamu yang cuma pengen mabok), cukup banyak pitcher berisi beer yang membuat kami kembung. Overall, manajemen Wonderbra was awesome!

Band-band yang main juga sangat membuat acara menjadi hidup. SRKM (tai, panjang banget namalo), rela manggung di saat sepi dengan sangat kerennya. Sehingga walaupun keadaan lagi sepi, performa mereka yang maksimal menghasilkan banyak foto-foto yang yahud. Lumayan, dul, buat TP dan profil kalian.

Stereomantic dengan konsep fullbandnya juga mantabbb… banyak org berpendapat bahwa band ini ga nyambung dgn musik usungan Wb, namun ternyata, aura bluesnya cukup kental walau mereka membawakan lagu pop. Hail!

Rumput laut tampil dadakan lantaran Afamous (seperti biasa) telat be’eng. Namun gitar kopong dan suara yang merdu bak menikmati es rumput laut di hari yang panas ditengah polusi kota membuat kami semua senang…

Afamous (akhirnya muncul) dengan keluhan Johny T, "woi, ini alat siapa sih!? nyempitin!" secara Zeke and The Popo dah nyampe duluan ke TKP, dan menaruh banyak ampli di sondong. Still, tetep aja nggak ada yang bisa marah ama Afamous, mereka maennya ANJING-ANJINGAN! KEREN DAN GROOVY ABIES! (kalo jelek namanya kucing-kucingan)… soulful, and that male voice remind us of opa Elvis Pelvis w/ his pelvishly hip!

Zeke and The Popo…Not much comments, just: goddamn! they were skillful, soulful, richful (look at those equipment!), and Ouch-ful for the guys, cuz the vocalist got  the prettiest girl in da house.. (y’all know who he and she were rite? if you don’t, start gowling around!)

The last band performing (supposedly)…
Wonderbra. It was the proudest day of my entire fucking life, and its not over yet. No further comment.

Namun acara belum berakhir. Setelah wonderbra ada band kolaborasi yang dinamakan ‘all stars’, terdiri dari cabutan semua band yang tadi maen. Yang maen siapa aja, gue dah agak-agak lupa. yg gue inget drummernya anak SRKM, gitarisnya ZATP, keyboardis dan bassist nya Afamous, dan Vocalnya Wb.  Sayang mereka cuma bawain satu lagu.

Setelah mereka selesai, gue berharap ada yang teriak ‘ENCORE!’. Tetapi mereka malah ngmong bahasa indonesiannya, yaitu:"Gugun…Gugun…Gugun!!" Loh? sebagai anak sastra inggris, gue tahu kalo bahasa indonesianya encore itu kan ‘lagi!’ bukan ‘Gugun’. Ternyata efek Global Warming sudah sangat parah, sehingga dewa-dewa Blues, Gugun and the Bluesbugs pada jatoh dari langit  yg berlobang dan hadir di launching. Dan yang paling ajaib: Mereka main! Gugun dan Ardi bassistnya, diiringi dengan dentuman drum Japra dari SRKM (gue sebutin nama drummer karena dia sangat beruntung bisa maen sama tuhan-tuhan), menutup acara dengan sangat fenomenal melalui lagu "Roadhouse Blues", dibantu oleh penyair Shamanic kita Gema Mawardi sebagai vokal ( dy lg trance berat bgt! jack pada patah macam ada highlander yg mati), seakan memberi kami selamat jalan di dunia rock n roll indonesia yg penuh dengan kemabukkan…

And indeed, it was the proudest day of my life. penonton yang ga terlalu ramai sehingga mainnya nggak terlalu keganggu, membuat kita merasa lagi selametan keluarga. Love u all guys!thanks dan maaf untuk semua kawan-kawan yang dateng dan ga disebutin di esei ini. You know who you are and how much we love you.

ps: gue belom ngomongin peran label LIMI di sini.sengaja ga gue omongin sebab ini tulisan bahagia bagaikan susu sebelangga. omongan label yang setitik nila bakal gue omongin di tulisan yang lain…