Hantu Di Lift PIM II
Monday, April 23rd, 2007Buat beberapa orang, pengalaman
manggung bersama Wonderbra adalah hal yang tidak akan terlupakan. Segala hal
dari permainan yang paling bagus (dengan mood, sound, dan crowd yang maksimal),
sampai yang terburuk (mood skripsi, sound dangdut, crowd robot dan yang tak
kalah menarik, akrobat stik terbang Edy Sembodo yang mengagumkan!!). Tapi dari
semua hal itu, yang paling mengagumkan mungkin pengalaman yang ini, sebuah
pengalaman di luar panggung yang sangat menggemparkan dan gak akan dilupakan:
ketemu hantu di PIM II.
Ada
banyak versi dari pengalaman yang satu ini, secara di lift PIM II di deket Mezza
9, lift sebelah kanan; ada 10 anak-anak wonderbra di dalamnya: Asep, Edi,
Abrar, Nosa, Manan, Erikmanajerqta, Sisie, Kuyut, Ari, Erikismis; dan
kesepuluhnya adalah saksi nyata tentang keberadaan makhluk halus di lift
tersebut. Yang aneh adalah kesepuluh-sepuluhnya memiliki versi yang berbeda
mengenai hal ini. Karna gue tau lu pada bete baca blog panjang2, yang akan gue ceritain
adalah versi orang terganteng di wbra, nosa, yang ia inget sekarang, jadi
kesalahan mungkin bakal banyak krn di antara homo sapiens yang lain, gitaris
keren lagi perkasa ini jarang bisa mengingat kejadian gaib, seperti wkt ia
reinkarnasi jadi babi stelah dikutuk dewi kwan im.
Ia mengaku seperti ini di
kosannya:
“Malam
itu setelah manggung di Mezza 9, gue basi banget. Karena malem itu wonderbra
main dengan orang-orang yang maksimal, tetapi dengan kondisi pemain yang tidak
maksimal. Pada kendor semuanya; dari segi fisik ga berimbang dengan adrenalin
rush rock ‘n roll (bener kata mas Yudhi Soenarto, fisik emang salah satu faktor
utama seni pertunjukan). Yah, mempercepatnya seperti ini: kita hampir saja
meninggalkan Mezza 9 dengan kenangan buruk, sampai kita tiba di lift.
Menurut
ingatan gue, gue masuk lift belakangan, bareng manan, dan entah siapa lagi gue
lupa. Waktu itu gue dan anak-anak abis ketemu ama Iman ‘zeke and the popo’, dan
obrolan yang menyenangkan dengan anak2 yang dateng nonton ga bikin feeling gue
lebih baik. Walhasil, waktu masuk lift, gue cemberut ;(. Di depan lift ada dua
mbak2 yang ga mao masuk dan ngalangin jalan. Gue dengan cueknya menerobos dan
masuk lift. Samar-samar gue denger mbak2 itu bilang,”jangan masuk, ada setan
dipojok, setan di pojok…”
Dalam hati gue
bilang,”the hell, mood gue lagi lebih panas daripada setan di neraka, apalagi
di pojok!” dan gue langsung menuju ke pojok kanan, (kalo dilihat dari pintu
keluar), dan si mbak2 kaget ngeliatin gue. Gue juga kaget ngeliatin mbak2
secara dia menor banget, padahal pulang kerja.
Gue
bilang lagi dengan sopan,”masuk mbak”, karena ruangan lift masih kosong. terus
dia malah takut ngeliat gue. “ih,” kate gue dalem hati,”situ yang dandanannya
kayak lenong, ngapain situ yang takut.” Gue cuek bebek diri di pojok dan
menutuplah pintu lift. Tiba-tiba pintu lift terbuka lagi, dan gue lihat muke
lenong itu lagi. Di deket tombol pintu lift, ada si Edy yang melongo dengan
muka homo habilis yang pertama kali menemukan api.
Manan
berteriak,”yah. Edy genit. Bilang aja lo pengen liat mbak-mbaknya lagi.” Sebuah
teriakan yang ga tau diri, secara itu keras be’eng dan mbak2 itchu masih disitchu!
Edy salting dan bilang, “siapa? Bukan gue. Kesenggol tas gue kali.”
Kesian
Edy, karena ternyata emang bukan dia (walau kita yakin dia pasti blm pernah
naek lift di jaman batu). Ternyata lift itu emang aneh, karna dia terbuka lagi
utk ketiga kalinya. Dan setelah menutup, kita turun dengan damai…sepertinya.”
Begitu kata Nosa. Ketika ia
menutup dengan kata Sepertinya ia bermaksud lain Karena ternyata setelah
rombongan sampai ke mobil, tepatnya di manggarai setelah Ari (turun di lebak
bulus) dan Kuyut (turun di manggarai) dengan memperlakukan erikmanajerqta layaknya supir angkot jurusan Pim Manggarai,
Sang supir angkot pun bertanya pada kondektur di sebelahnya, “Sie, tadi mbak2
ngapain ngeliatin kita ya?”.
Lalu kondektur
seksi bernama sisie yang layaknya montir seksi di koran poskota menjawab supir
dengan,”mungkin dia nyuruh temennya pada keluar.”
Supir
bertanya lagi,”Lho? Bukannya temen-temennya udah pada keluar?”
“Belom,
ah. Masih banyak yang di dalam…tapi tadi perasaan yang turun dari lift qta-qta
doang. Mereka turun di lt berapa ya?”
Semua
terdiam, dan berbicaralah dua orang kunyuk bernama Asep dan Manan dan mereka
bersaksi bahwa tiada tuhan selain yahweh….bahwa mereka melihat banyak orang
selain anak2 wbra yang 10 orang di dalam lift. Sementara itu, gitaris ganteng
yang tadi berdiri di pojok kanan lift, tidak melihat apa2. Si tampan dengan berat
65 tinggi 171, tidak melihat apa-apa kecuali anak-anak wbra. Tp ia merasa
sungguh sesak, seakan lift itu memang dipenuhi orang. Karena itulah sepanjang
perjalanan dari lantai paling atas sampai paling bawah tidak ada yang berbicara
sepatah katapun.
Seraya
mengingat kejadian tersebut, maka berteriaklah seisi mobil yang berisi enam
homo sapien (vol otak > 300 Cc), satu homo habilis (vol otak< 150Cc), dan
satu orang batak (vol otak > Rp 500.000/minggu),
“ARARRRRGGGHHHH! GILLLAAA!! TADI APAAN TUH!!” dan kita semua sadar, bahwa di
lift itu memang ada makhluk-makhluk yang, meminjam istilah mbah maridjan, “metafisik”.Dan
kita langsung menuju ke Depok untuk meminta perlindungan kepada: tukang bubur
sukabumi yang terkenal enak dan bsa menghangatkan perut dan berkhasiat
menghilangan halusinasi (langganan setiap kali pulang mabok) siapa tahu, kita
manusia depok yang mabok udara jakarta.
Ketika
sampe tukang bubur, the buburman langsung bingung, karena ada segerombolan
anak-anak sastra yang terlanjur berkhayal bahwa mereka sebenarnya sudah mati di
dalam lift, dan yang dateng ke sana adalah roh2 mereka yang kangen makan bubur. Yang bikin tukang bubur panik dan
hampir menelp RSU Depok bagian kejiwaan adalah ketika anak2 ini bertanya dengan
mata melotot,”bang, abang bisa liat kita kan?
Bisa kan?”
Untungnya si abang bubur kenal beberapa dari kita yang sering ke sana dalam keadaan tanpa
arwah alias gits berat, jadi dia cuma komentar dalam hati,”wah, abis nyoba
produk baru nih bocah2…”
Yak,
utk mempersingkat blog ini yang ternyata sudah dua halaman, pada akhirnya
setelah membuat panik tukang bubur, mendengar cerita satu sama lain(yang ga ada
koherensinya), dan mengganggu orang jalan tak bersalah bernama Pawl sekedar
untuk curhat, kami akhirnya menyebar kembali ke habitat masing-masing. Edy,
Asep, Sisie, kembali ke kosan. Sementara Nosa, manan, erikismis, terpaksa cek
in di rumah Erikmanajerqta karena ada tendensi bahwa setan PIM II masih
bercokol di mobil kijangnya. Walau pada akhirnya, hal ini menjadi hal yang
cukup menggemparkan di kancut dan membuat GOGON (Gosip-Gosip Ondergrond) yang
bahkan soemboe! males buat nyetakin, ini tetap membekas di hati mereka semua
dan gue juga. Sebuah pengalaman pengganti nonton manggung yang caur, dan
membuang adrenalin rush yang cukup besar buat anak-anak itu. siapa yang tahu, hantu-hantu itu cuma datang untuk menonton. seperti juga gue. haha. keren.
Orang ketiga…
sang Omnious